Pada tanggal 2 Maret 2020, Presiden RI Joko Widodo mengumumkan bahwa terdapat 2 orang warga Indonesia yang telah positif terinfeksi COVID-19. Hal ini membuat masyarakat Indonesia panik dengan berbondong-bondong membeli masker dan hand sanitizer dengan jumlah yang banyak.  Panic buying yang belakangan terjadi merugikan pihak yang benar-benar memerlukan kedua barang tersebut seperti dokter, perawat dan tenaga kesehatan lainnya yang sedang menangani pasien suspect terpapar virus corona.

Lalu, bagaimana dengan langkah pemerintah selanjutnya dalam mengatasi situasi penyebaran virus corona? Saat ini, masyarakat Indonesia khususnya wilayah Jabodetabek, Jawa Barat dan Banten dihimbau untuk melakukan self-isolation atau melakukan karantina mandiri dirumah untuk membantu menurunkan penyebaran virus. Pasalnya, hanya dalam kurun waktu 18 hari sejak diumumkannya kasus positif pertama, sudah ada 369 orang yang dinyatakan positif COVID-19. Dalam bilangan angka mungkin masih terlihat sedikit, namun jika dibandingkan dengan negara Eropa lainnya, sangatlah signifikan perbedaannya. Di Inggris, angka kasus mencapai 300 di hari ke-39, sedangkan Perancis di hari-42 dan Italia di hari-27. Ini menjadi peringatan kita bersama bahwa penyebaran virus ini sangatlah cepat. Hingga per 30 Maret 2020 terdapat 114 kasus kematian akibat virus corona dan 64 orang survivor yang menempatkan Indonesia menjadi negara dengan kasus kematian tertinggi di Asia Tenggara.

Prediksi jumlah kasus kumulatif positif corona di Indonesia yang dilakukan oleh beberapa ahli dapat mencapai lebih dari 35.000 kasus (Jibril, 2020) pada akhir Maret 2020. Sedangkan menurut Elyazar, dapat mencapai lebih dari 70.000 kasus per tanggal 20 April 2020. Kondisi genting ini memerlukan langkah yang tepat dan konkret untuk menekan laju pertumbuhan kasus baru. Ditambah lagi, kondisi asymptomatic atau tanpa gejala juga berperan dalam hal ini. Penelitian yang dilakukan pada penumpang kapal pesiar Diamond Princess menyatakan bahwa 73 penumpang dinyatakan positif setelah 10 hari dilakukan skrining yang sebelumnya tidak memiliki gejala apapun. Dengan demikian, pasien corona bertambah menjadi 320 kasus positif pada hari ke-15 setelah dilakukan tes.

Melihat pengalaman negara Korea Selatan dalam menekan kasus baru, skrining massal dilakukan semaksimal mungkin untuk seluruh masyarakat. Per tanggal 16 Maret 2020,  sebanyak lebih dari 270.000 jiwa telah menjalani tes. Jaga jarak, isolasi mandiri dan melacak tempat-tempat yang telah dikunjungi penderita positif corona juga dilakukan secara bersamaan dengan skrining massal. Langkah-langkah tersebut berdampak positif dengan menurunnya kasus baru dari 909 orang per tanggal 29 Februari menjadi 74 orang di awal bulan Maret. 

Dapat disimpulkan bahwa skrining masal menjadi salah satu upaya penting untuk mendeteksi dini kasus positif COVID-19, sehingga penularan oleh orang yang tidak menunjukkan gejala dapat diminimalisir. Melihat fakta bahwa negara Indonesia juga belum memiliki alat pemeriksaan massal yang memadai, masyarakat dapat membantu dengan mengisolasi diri dirumah, karena kita tidak pernah tau apakah kita membawa virus tersebut atau tidak.  Penularan virus corona oleh orang yang tidak memiliki gejala dapat membahayakan orang yang rentan seperti lansia dan orang dengan penyakit bawaan lainnya seperti penyakit jantung, diabetes, penyakit paru atau pneumonia yang tingkat kematiannya sangat tinggi. Harapan besar terhadap pemerintah Indonesia adalah untuk menyediakan kit pemeriksaan COVID-19 secara komprehensif dalam upaya penekanan penyebaran virus agar dapat dilakukan lebih maksimal.

Penulis : Ardina Ulya
Editor : Iqmi Qaisah Ali, Mazidatun Maftukhah, Irza Husmelinda