Pandemi COVID-19 masih menjadi kekhawatiran bagi setiap orang, tidak terkecuali kelompok rentan seperti ibu hamil. Kekhawatiran muncul terhadap dampak yang mungkin dapat mempengaruhi kesehatan ibu dan perkembangan janin jika sampai terpapar dan terinfeksi virus corona (SARS-CoV-2).  Selama masa kehamilan, terdapat perubahan sistem imun yang menyebabkan ibu hamil lebih rentan untuk terinfeksi virus SARS-CoV-2.

Pentingnya mengenali tanda dan gejala awal penularan COVID-19 menjadi langkah yang harus dipahami oleh setiap ibu untuk dapat meminimalisir manifestasi risiko yang ditimbulkan dari infeksi virus ini. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa wanita hamil dengan COVID-19 memiliki kemungkinan lebih kecil untuk menunjukkan gejala tertentu seperti demam dan nyeri otot dibanding dengan wanita yang tidak hamil. Keparahan gejala dari COVID-19 pada ibu hamil dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko diantaranya usia ibu hamil yang lebih tua, status gizi lebih, dan penyakit penyerta seperti diabetes dan hipertensi.

Dampak infeksi COVID-19 pada ibu hamil telah diungkapkan dari beberapa hasil penelitian, meskipun belum diketahui dengan jelas dampaknya pada kesehatan bayi baru lahir. Beberapa hal yang sudah diketahui berdasarkan hasil penelitian diantaranya: ibu hamil dengan COVID-19 berisiko untuk melahirkan bayi prematur. kemungkinan bayi baru lahir terpapar COVID-19 dari ibunya hanya sebesar 2% hingga 5%3. Penelitian juga mengungkapkan bahwa kematian ibu akibat COVID-19 hanya terjadi pada wanita dengan penyakit penyerta dan kematian pada bayi lebih banyak disebabkan oleh kondisi prematur.

Paparan dan infeksi COVID-19 pada ibu hamil juga dapat menimbulkan dampak dari sisi psikologis ibu. Ibu hamil yang terkonfirmasi positif COVID-19 rentan mengalami masa stres dan merasa cemas tentang kesehatannya, bayi yang dikandungnya, dan orang-orang disekitarnya. Menurut Jurnal Psychiatry Research, selama pandemi ibu hamil mengalami peningkatan kecemasan dan depresi secara progresif5. Kecemasan ini datang dari banyaknya pikiran tentang menjaga kehamilan, proses kelahiran, dan proses mengasuh bayi selama pandemi. Selain itu, kondisi yang mengharuskan ibu untuk melakukan isolasi secara fisik membuat ibu akan semakin jenuh dan stress. Kondisi ini jika berkelanjutan dapat memberikan dampak bagi janin yang dikandungnya. Ibu yang depresi lebih mungkin melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah dan prematur.

Untuk mengurangi kondisi tersebut, ibu dapat melakukan beberapa hal diantaranya menerapkan pola hidup sehat selama di rumah seperti melakukan olahraga ringan, menerapkan prinsip gizi seimbang, mencukupi kebutuhan cairan dan cukup tidur. Selain itu, berinteraksi dengan keluarga dan teman terdekat secara daring dapat membantu ibu untuk terus termotivasi dan tetap berpikir positif.

Oleh karena itu, penerapan protokol kesehatan oleh ibu hamil tetap harus dilakukan. Beberapa usaha preventif untuk mengurangi risiko tertular COVID-19 yang dapat dilakukan diantaranya: membatasi kontak dekat dengan orang yang sakit atau memiliki gejala COVID-19, memakai masker ketika berada di luar rumah, rutin mencuci tangan menggunakan sabun minimal selama 20 detik atau menggunakan hand sanitizer dengan kandungan alkohol minimal 60%, serta mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang.

Selain upaya-upaya pencegahan tersebut, ibu hamil disarankan untuk melakukan tes COVID-19 di awal kehamilan trimester pertama dan di trimester akhir, yaitu sekitar satu sampai dua minggu sebelum persalinan. Hal tersebut dilakukan untuk mendeteksi adanya paparan atau infeksi virus pada ibu hamil dan yang hendak melahirkan sebagai upaya untuk mencegah risiko penularan virus. Selain itu, ibu hamil tetap disarankan untuk melakukan kunjungan kehamilan rutin ke tenaga kesehatan guna memantau kesehatan ibu dan janin.

Summit Institute for Development (SID) sebagai lembaga non-profit yang berfokus pada peningkatan kesehatan ibu dan anak berkomitmen untuk berperan aktif dalam memastikan bahwa ibu hamil mendapatkan pelayanan selama kehamilan dan setelah persalinan secara menyeluruh, terlebih saat masa pandemi COVID-19. Usaha yang dilakukan meliputi penggunaan platform digital OpenSRP yang dapat membantu tenaga kesehatan garis depan dalam memberikan pelayanan yang terintegrasi, serta melakukan penilaian dampak COVID-19 pada perawatan prenatal dan luaran kehamilan.