Hari Malaria Sedunia diperingati tanggal 25 April setiap tahunnya. Pada tahun 2018, terdapat 27 negara yang melaporkan kurang dari 100 kasus malaria, meningkat dari 17 negara dari tahun 2010. Negara Algeria, Argentina, Paraguay dan Uzbekistan telah mendapatkan sertifikat bebas malaria dua tahun silam. Meskipun sudah banyak negara dengan kasus malaria yang rendah, masih banyak negara Sub-Sahara dan Afrika yang memiliki angka malaria yang cukup tinggi. Tidak hanya di Benua Afrika saja, negara di benua lain juga masih ada yang memiliki kasus malaria, termasuk Indonesia. Terlebih lagi, dalam beberapa tahun terakhir penurunan kasus malaria terbilang menetap, kembali ke jalur untuk tetap berprogres menurunkan angka kasus malaria sangat diperlukan.

Setiap tahunnya kampanye Hari Malaria Sedunia berjalan dengan baik, namun peringatan kali ini berbeda. Tahun ini merupakan tantangan bagi para penggiat pencegahan malaria dan tenaga kesehatan, karena upaya pencegahan malaria dilakukan bersamaan dengan pencegahan COVID-19. Para petugas kesehatan wajib menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) dan lebih sering mencuci tangan saat turun lapangan ke masyarakat. Memodifikasi rencana pencegahan juga diperlukan untuk meminimalisasi paparan virus corona.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menambahkan, tidak dianjurkan kepada negara yang masih memiliki kasus malaria untuk menunda atau menghentikan sementara kegiatan pencegahan malaria karena akan berdampak pada kenaikan angka kasus malaria. Pengalaman ini pernah terjadi saat wabah virus ebola melanda negara Guinea, Liberia dan Sierra Leone, program pencegahan malaria pun dihentikan, akibatnya angka kesakitan dan kematian yang disebabkan malaria yang melambung tinggi di ketiga negara tersebut.

Tema Hari Malaria Sedunia tahun 2020 adalah “Zero Malaria Starts With Me”. WHO terus berusaha dan mengampanyekan kepada para pemegang kebijakan, sektor swasta dan seluruh elemen yang berhubungan dengan pencegahan malaria untuk bekerja sama agar tidak ada lagi orang yang terinfeksi malaria di dunia ini. 

Summit Institute of Development (SID) melalui program tes diagnostik cepat atau Rapid Diagnostic Test (RDT) ikut berpartisi dalam pengendalian malaria yang telah dimulai pada November 2019 di Manokwari, Papua Barat. RDT secara umum telah digunakan secara massal untuk skrining atau deteksi penyakit secara cepat. Pengukuran dari RDT yang akurat sangat penting untuk pengendalian penyakit dan perawatan pasien. SID menggunakan open standard RDT, sebuah versi RDT yang telah dimodifikasi untuk dapat menyimpan informasi pada RDT yang dapat diidentifikasi dan direkam menggunakan aplikasi pada smartphone

Penggunaan open standard RDT ini akan didampingi dengan aplikasi Open Reader RDT pada smartphone untuk mengurangi kesalahan input dan mendukung interoperabilitas pada sistem informasi kesehatan. Selain itu, RDT ini dapat digunakan untuk ekstraksi DNA untuk identifikasi strain parasit malaria. Hal ini penting untuk melacak sumber penularan malaria di suatu komunitas. Keseluruhan kegiatan program RDT ini tetap dijalankan oleh tim SID hingga saat ini untuk mencegah peningkatan kasus dan kematian akibat malaria yang tajam karena kelalaian dalam melanjutkan upaya pengendalian malaria dalam kondisi pandemi.

Mari bersama-sama mengeradikasi malaria, dimulai dari diri sendiri.
Happy World Malaria Day, Zero Malaria starts with me!

Writer: Ardina Ulya
Editor: Iqmi Qaisah Ali, Mazidatun Maftukhah, Iffa Karina Permatasari
Contributor: Iffa Karina Permatasari, Satya Sadhu