Advanced technology dapat sangat bermanfaat di berbagai sektor, termasuk di bidang kesehatan. Summit Institute of Development (SID) menerapkan sistem informasi digital untuk membantu meningkatkan kualitas dan pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan khusunya bidan. Terkait pemanfaatan advanced technology, baru-baru ini SID mengadakan presentasi hasil Program SELEB di hadapan Sekretaris Daerah Pasaman Barat.

Apa itu Program SELEB?

Program SELEB (Sistem Informasi Digital untuk Evaluasi Pengetahuan dan Pelatihan Bidan) adalah sistem evaluasi pengetahuan bidan di seluruh wilayah Kab. Pasaman Barat menggunakan teknologi berbasis data analisis digital. Sistem ini terintegrasi dengan Computer Assisted Test (CAT) dengan bank soal yang disusun oleh ahlinya dan materi yang diujikan merujuk pada poin-poin Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 369/MENKES/SK/III/2007 Tentang Standar Profesi Bidan dan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 97 tahun 2014 tentang pelayanan kesehatan masa sebelum hamil, masa hamil, persalinan, dan masa sesudah melahirkan, penyelenggara kontrasepsi serta pelayanan kesehatan seksual.

Bidan di Pasaman Barat selama evaluasi.

Dalam sistem ini terdapat sejumlah 500 soal yang terus dikembangkan dan terdiri dari 11 topik penting yang wajib dikuasai oleh bidan, seperti pelayanan ANC, nifas, bayi baru lahir, KB, Etika Profesi, dan 6 topik lainnya. Sistem ini secara otomatis memberikan soal dengan tingkat kesulitan soal yang setara. Dari 500 bank soal, setiap bidan akan mendapat 30 soal sebanyak 3 sesi. Soal dan pilihan jawaban diacak secara otomatis oleh sistem sehingga menghindari kemungkinan peserta evaluasi berdiskusi saat pelaksanaan evaluasi.

Dalam pemaparan yang juga dihadiri oleh pejabat dan perwakilan Bappeda, Inspektorat, BPKD, BKPSDM, Ketua IBI Kab. Pasaman Barat, dan seluruh Kepala Puskesmas Pasaman Barat ini, Kepala Dinas Kesehatan Pasaman Barat, Haryunidra, SKM, menyatakan pentingnya kegiatan inovasi ini untuk membuat pemetaan terhadap pengetahuan bidan sehingga dapat menjadi referensi untuk Dinas Kesehatan dalam mengadakan pelatihan dan fokus program kesehatan. Dengan program ini, pemetaan kapasitas pemahaman bidan dapat dilakukan secara akurat, sehingga menjadi masukan dalam pencanangan strategi untuk melatih bidan dengan lebih efektif dan efisien.

“Luar biasa komitmen Dinas Kesehatan Pasaman Barat untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan sehingga berinisiatif untuk melakukan evaluasi ini. Tidak terbatas pada pelaksanaan program semata, Dinas Kesehatan juga mengundang instansi terkait dalam pemaparan hasil evaluasi. Hal ini sangat penting, karena peningkatan kualitas kesehatan adalah tanggung jawab bersama,” demikian Inraini Syah, MPH, Chief Project Officer SID, sangat mengapresiasi Pemerintah Pasaman Barat, dalam hal ini Dinas Kesehatan yang menjadi Kabupaten pertama di Indonesia yang meminta SID untuk melaksanakan evaluasi seluruh bidan. Sebanyak 435 bidan telah selesai mengikuti program ini.

Selain melihat kemampuan bidan dalam 11 topik yang dievaluasi, hasil analisa juga menghubungkan antara pengetahuan bidan dengan beban kerja, lama bertugas, usia, status kepegawaian, institusi pendidikan, dan training yang didapatkan dalam 1 tahun terakhir.

Berdasarkan penyampaian Kepala Bidan Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Pasaman Barat, Suhandi Lubis, S.Farm., Apt., M.K.M. ke depannya diharapkan kegiatan ini dapat dilaksanakan secara rutin dan Dinas Kesehatan bekerjasama dengan SID dapat membuat customized training program. Yaitu program pelatihan yang diberikan berdasarkan kebutuhan perseorangan Bidan. Yang nantinya setelah pelaksanaan pelatihan, masing-masing bidan akan dievaluasi kembali. Baik itu secara tingkat pengetahuan maupun outcome pelayanan kesehatan terhadap masyarakat. Kegiatan ini juga merupakan proyek perubahan yang diusung Kabis Kesmas Dinas Kesehatan Pasaman Barat dalam kegiatan Diklat PIM III di BPSDM Sumatera Barat.