Dalam upaya mengoptimalkan tumbuh kembang anak di Provinsi Nusa Tenggara Barat, maka dicanangkanlah “Program Generasi Emas NTB 2025” atau disebut juga GEN 2025 di tahun 2014. Penetapan program GEN 2025 ini didasarkan pada Peraturan Daerah No 7 tahun 2011 yang bertujuan untuk “meningkatkan dan melindungi kesehatan dan kesejahteraan perempuan, bayi dan anak”. Selanjutnya, untuk pengembangan program tersebut, maka dibentuklah Tim Koordinasi Pengembangan Program di tahun 2014 (SK Gubernur no 420-79 tahun 2014). Pengembangan program ini dilakukan sebagai upaya bersama dan terintegrasi antara pemerintah, universitas, dan kelompok masyarakat madani untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak melalui:[1]. Penguatan Pusat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di tingkat desa dengan pendekatan yang berpusat pada keluarga sehingga pengasuh memiliki kapasitas pengetahuan yang lebih baik tentang perkembangan dan kesehatan anak usia dini; [2]. Pelatihan dan penugasan Petugas Lapangan Kesehatan Masyarakat untuk melatih dan memberikan sertifikasi untuk Pasangan Ramah Anak (PARANA) demi mendukung perkembangan anak usia dini; [3].Penyelenggaraan suatu sistem informasi yang menghubungkan PARANA, PLKB, PAUD dan Puskesmas untuk memantau tumbuh kembang anak dan melakukan intervensi jika dibutuhkan.

Program Generasi Emas juga memiliki rencana berkelanjutan yang akan membentuk Koperasi PLKB sebagai sebuah bisnis sosial dengan pendapatan berasal dari asuransi, penjualan barang danpenyediaan informasi yang diberikan kepada klien. Usaha ini akan didukung secara berkelanjutan olehPusat Penelitian Perkembangan Anak Usia Dini (P3AUD) yang ada di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Universitas Mataram (Unram). Dampak Program Generasi Emas akan dilihat dan dinilai melalui sebuah cluster percobaan terkontrol acak yang melibatkan 80 daerah cakupan layanan PAUD/Puskesmas yang didalamnya terdapat 520.000 jiwa, atau sekitar 104.000 rumah tangga atau 30.000 pasangan dan bayi mereka, dengan setengah dari jumlah ini akan diintervensi selama periode 2 tahun.
Kami menggarisbawahi adanya kerentanan dan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anakyang berumur kurang dari 2 tahun. Lingkungan rumah tangga merupakan penentu utama dari perkembangan kognitif dan Agensi Keibuan (Pemberdayaan maternal untuk pengambilan keputusan) sangatlah terkait dengan penurunan penyakit anak. Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa lingkungan rumah sangat krusial dalam mempengaruhi kualitas pertumbuhan anak dan bahwa PLKBmerupakan agen perubahan yang penting. Hanya saja, hasil ini hanya terlihat pada kasus di mana petugasnya bekerja penuh melalui sistem rekrutmen yang tepat, pelatihan yang efektif, dan pengawasan yang baik.
Program Generasi Emas memiliki tiga tujuan. Tujuan 1: Memperbaiki kualitas PAUD yang sudah ada dengan memfokuskan pada program-program berbasis keluarga untuk meningkatkan kapasitas pengasuh akan kesehatan dan perkembangan anak mereka dengan meningkatkan pengetahuan, memperbaiki kualitas lingkungan rumah, dan mendorong mereka untuk selalu membangun hubungan yang positif dengan anak mereka. Tujuan 2 : Menerjunkan PLKB melalui sebuah model usaha bisnis sosial untuk melakukan pelatihan berbasis masyarakat dan menjamin lancarnya perujukan serta terjalinnya koordinasi yang baik antara PAUD dan Puskesmas. Tujuan 3: Membangun sistem informasi elektronik uang mengintegrasikan hasil kerja PAUD, PLKB, dan Puskesmas sehingga perkembangan anak dapat dipantau dan dilakukan penanganan jika dibutuhkan.

Implementasi dari program ini akan mencakup pengembangan Koperasi PLKB sebagai sebuah usaha sosial dengan pendapatan yang akan berasal dari penjualan barang untuk stimulasi anak berharga murah (misalnya mainan), penyediaan jasa (misalnya pendidikan dan konsultasi), dan asuransi kesehatan. Selain itu, PLKB akan mendapatkan tunjangan untuk mendukung kinerja mereka sebagai agen peningkatan kualitas keluarga. Selain itu, keberadaan P3AUD di Universitas Mataram akan menjamin keberlangsungan teknis program.

Solusi yang ditawarkan ini mengintegrasikan dan memperluas cakupan agenda program kesehatan dan pendidikan yang suda ada di masyarakat. Berbagai pihak dilibatkan. Nantinya, proses evaluasi dampak program ini akan dititikberatkan pada beberapa ranah meliputi pertumbuhan, kognisi, kemampuan berbahasa dan pengaturan emosi, sekaligus juga pengetahuan orang tua. Kami memprediksi 50% bayi akan terlahir dari PRA yang nantinya akan meningkatan nilai pembangunan rata-rata sampai 0.3 SD dalam 2 tahun.
Proyek ini akan melayani 15,000 pasangan dan anak mereka diseluruh daerah Pulau Lombok, Indonesia.